Sistem Evaluasi
Nama : Farisa Febriani
Nim : 12001326
Kelas : PAI 4F
Matkul : Magang 1
Laporan Bacaan ke-10
A. Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran
Sebagai
seorang guru, tahapan evaluasi pembelajaran menjadi salah satu unsur penting
dalam proses belajar mengajar. Setelah Bapak/Ibu Guru melakukan transfer
knowledge melalui tugas dan materi, kini saatnya melakukan sebuah evaluasi dari
apa yang sudah Bapak/Ibu Guru ajarkan.
Kata “evaluasi” yang merupakan serapan dari kata “Evaluation” memiliki kata dasar “value” yang sangat berkaitan dengan hal baik atau buruk. Value atau nilai inilah yang harus Bapak/Ibu Guru tentukan dalam upaya keefektifan kegiatan belajar mengajar. Dalam pembelajaran paling tidak ada beberapa prinsip yang menjadi pegangan bagi seorang guru. Apa saja prinsip tersebut? Berikut uraiannya:
1. Kontinuitas
Evaluasi dalam pembelajaran bukan hanya dilakukan saat ujian tengah semester atau akhir semester saja. Lebih dari itu, jika Bapak/Ibu Guru ingin melihat perubahan nilai dari siswa harus dilakukan secara berkesinambungan. Artinya, sejak dari tahap penyusunan rencana pembelajaran hingga pelaporannya tetap harus dipantau secara kontinuitas nya.
2. 2. Komprehensif
Tidak
jarang beberapa guru hanya fokus pada aspek kognitif dari siswanya. Padahal,
dua aspek lainnya yakni kognitif dan afektif turut berperan besar dalam proses
evaluasi pembelajaran. Sebagai guru memang tidak hanya dituntut bagaimana siswa
bisa paham sebuah materi. Guru juga dituntut bagaimana bisa membentuk karakter
siswa yang baik hingga bisa memiliki dampak positif di kehidupannya. Oleh
karena itu evaluasi pembelajaran yang baik dilakukan dari proses belajar hingga
hasil belajar dari siswa..
3. 3. Kooperatif
Sejatinya, proses evaluasi pembelajaran yang dilakukan harus berkoordinasi dengan berbagai elemen yang turut andil dalam perkembangan siswa. Mulai dari kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua, hingga petugas administrasi. Bahkan, sangat dianjurkan juga bekerjasama dengan siswa itu sendiri. Mengapa? Karena ini bertujuan supaya seluruh elemen yang terlibat dalam evaluasi pembelajaran merasa dihargai atas kerjasama yang dilakukan.
4. Objektif
Penilaian
hasil dalam evaluasi belajar haruslah bersifat objektif. Artinya, faktor-faktor
subyektif seperti hubungan guru dengan siswa dan faktor perasaan karena merasa
tidak tega atau yang lainnya tidak boleh dimasukkan ke dalam evaluasi. Jika siswa
tersebut mendapat nilai yang kurang baik, berarti harus dimasukkan nilai
tersebut dengan pemberian catatan untuk memotivasi siswa dan pemberitahuan
kepada orang tua.
5. Praktis
Prinsip
evaluasi pembelajaran harus bersifat praktis. Artinya, kegiatan tersebut harus
menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Pada prinsip ini sangat menekankan
kemudahan guru untuk menyusun instrumen penilaian yang mudah digunakan tidak
hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga memungkinkan digunakan oleh guru lain.
Seiring dengan kepraktisan tersebut, jangan sampai menghilangkan esensi
evaluasi pembelajaran itu sendiri yakni mencapai keoptimalan dari tujuan
belajar.
B. Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Selain
berbagai prinsip-prinsip di atas, pentingnya evaluasi dalam pembelajaran dapat
dilihat dari fungsi atau kegunaan yang dimilikinya. Menurut Arifin (2017, hlm.
15) fungsi atau kegunaan yang dimiliki oleh evaluasi pembelajaran adalah
sebagai berikut.
- Fungsi Formatif
Yakni
untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses
pembelajaran dan mengadakan program remedial jika diperlukan bagi peserta
didik.
- . Fungsi Sumatif,
Yaitu
menentukan nilai kemajuan atau hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran
tertentu, sebagai bahan untuk memberikan laporan kepada berbagai pihak,
penentuan kenaikan kelas, dan penentuan lulus tidaknya peserta didik.
- Fungsi Diagnostik
Yakni
untuk memahami latar belakang meliputi latar psikologis, fisik, dan lingkungan
peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan
sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan tersebut.
- Fungsi Penempatan
Yaitu
menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang tepat (misalnya dalam
menentukan program spesialisasi) sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
C. Ragam Bentuk Alat Evaluasi, Sasaran Evaluasi
1.
Ragam Bentuk Alat Evaluasi
Secara
garis besar, ragam alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu sebagai
berikut:
a. Bentuk Objektif
a. Bentuk objektif biasanya diwujudkan dalam bentuk-bentuk alternatif jawaban, pengisian titik-titik, dan pencocokan satu pernyataan dengan pernyataan lainnya. Bentuk ini lazim juga disebut tes objektif, yakni tes yang jawabannya dapat diberi Skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya (Syah, Muhibbin. 2008: 146).
b. Bentuk Subjektif
Alat evaluasi yang berbentuk tes subjektif adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak ternilai dengan score atau angka pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi objektif (Syah, Muhibbin. 2008: 149). Hal ini disebabkan banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrumen evaluasi mengambil bentuk Essay examination, yakni soal ujian mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.
2. Objek/Sasaran Evaluasi
a.
Subjek Evaluasi
Subjek
evaluasi adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat
disebut sebagai subjek evaluasi untuk setiap test, ditentukan oleh suatu aturan
pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku.
Contoh:
untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian maka
sebagai subjek evaluasi adalah guru.
b.
Sasaran/objek Evaluasi
Objek
atau sasaran penilaian adalah segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan
karena penilaian menginginkan informasi tentang sesuatu. Dengan masih
menggunakan diagram tentang transformasi maka sasaran penilaian untuk unsur-unsurnya
meliputi :
·
Input
Calon
siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan
bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur.
·
Transformasi
Telah
dijelaskan bahwa banyak unsur yang terdapat dalam transformasi yang semuanya
dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan
yang diharapkan.
·
Output
Penilaian
terhadap lulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat
pencapaian/prestasi belajar mereka selama mengikuti program. Alat yang digunakan
untuk mengukur pencapaian ini disebut test pencapaian. Kecenderungan yang ada
sampai saat ini disekolah adalah bahwa guru hanya menilai prestasi belajar
aspek kognitif atau kecerdasan saja. Alatnya adalah test tertulis. Aspek
psikomotorik, apalagi afektif, sangat langkah dijamah oleh guru. Akibatnya
dapat kita saksikan, yakni bahwa pada para lulusan hanya menguasai teori tetapi
tidak terampil melakukan pekerjaan keterampilan, juga tidak mampu
mengaplikasikan pengetahuan yang sudah mereka kuasai.
3.
Hasil Pembelajaran
Seperti
variabel metode dan kondisi pembelajaran, variabel hasil pembelajaran juga dapat
diklasifikasikan dengan cara yang sama. Hasil pembelajaran dapat
diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: keefektifan, efisiensi, dan daya tarik,
ketiga klasifikasi itu, antara lain:
a.
Keefektifan
Keefektifan
pembelajaran biasanya diukur dengan tingkat pencapaian isi belajar. Ada empat
aspek penting yang dapat dipakai untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran,
yaitu;
·
Kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari
atau sering disebut dengan “tingkat kesalahan”.
·
Kecepatan unjuk kerja.
·
Tingkat alih belajar.
·
Tingkat retensi apa yang dipelajari.
b.
Efisien
Efisiensi pembelajaran biasanya diukur dengan rasio antara
keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si belajar atau jumlah biaya
pembelajaran yang digunakan.
c.
Daya tarik
Daya
tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecendrungan siswa untuk
tetap belajar. Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan daya tarik studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya.
Itukah sebabnya, pengukuran kecendrungan siswa untuk terus atau tidak terus
belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan
bidang studi.
Komentar