KURIKULUM

Nama : Farisa Febriani
Kelas : 4F/PAI
Nim : 12001326
Makul : MAGANG 1 ( Laporan Bacaan ke-6)
F. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

  Prinsip sering diartikan sebagai way of life atau pandangan hidup, atau sesuatu yang harus patuhi, disini prinsip berarti rule of the games atau aturan main, yakni semacam acuan dan rambu-rambu yang harus diperhatikan dan dipatuhi dalam pengembangan sebuah kurikulum. Prinsip-prinsip dasar tersebut mempunyai tujuan agar kurikulum yang didesain atau yang dihasilkan diharapkan memang betul-betul sesuai dengan kebutuhan (the need) semua pihak, yakni anak didik, orang tua, masyarakat umum, pemakai lulusan (the user), bangsa dan negara. Selama terjadinya perubahan kurikulum sekolah di bumi nusantara ini, masing-masing mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berbeda. Namun sasaran yang hendak dicapai adalah sama, yaitu dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan agar tercapainya tujuan pendidikan nasional yang terdapat pada UU No.20 Tahun 2003 bab II Pasal 3. Seperti halnya komponen, dan landasan, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum juga terjadi perbedaan diantara para ahli jumlah prinsip yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Nasution (1989) mengemukakan ada 4 (empat) prinsip. Soetopo & Soemanto (1986) mengemukakan 4 (empat) prinsip, Fuaduddin & Karya (1992) menamakan prinsip dengan istilah kriteria, ada empat kriteria, dan Tyler (1949) mengemukakan tiga kriteria, yaitu: berkelanjutan (continuity), berurutan (sequence), dan keterpaduan (integration). Selain itu Sudirman dkk. (1990) mengemukakan ada sepuluh prinsip pengembangan kurikulum. Sementara Subandijah (1993) mengemukakan 6 (enam) prinsip pengembangan kurikulum dan ini senada dengan yang dikemukakan Abdullah Idi (1999). Prinsip-prinsip tersebut adalah: 

1. Prinsip Relevansi
Kata relevansi atau relevant mempunyai arti (closely) connected with what is happining, yakni mempunyai arti berhubungan dengan apa yang terjadi (Abdullah Idi, 1999). Apabila dikaitkan dengan pendidikan, maka perlu penyesuaian program pendidikan dengan tuntutan kehidupan masyarakat (the needs of society). Pendidikan dikatakan relevan bila hasil yang diperoleh akan berguna bagi kehidupan seseorang. Hendyat Soetopo & Wasty Soemarto (1986) dan Subandijah (1993) mengungkapkan prinsip relevansi sebagai berikut:
• Relevansi Pendidikan dengan Lingkungan Kehidupan Peserta Didik
Relevansi pendidikan dengan lingkungan kehidupan peserta didik berarti bahwa dalam pengembangan kurikulum atau dalam menetapkan bahan pengajaran yang diajarkan hendaknya dipertimbangkan atau disesuaikan dengan kehidupan nyata sehari-hari di sekitar peserta didik. Seperti kondisi daerah antara perkotaan dengan pedesaan, daerah pegunungan atau daerah pantai dan sebagainya. Pembelajaran yang mencoba menghubungkan dengan lingkungan hidup peserta adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual.
• Relevansi Pendidikan dengan Kehidupan Sekarang dan Kehidupan Yang Akan Datang.
Apa yang diajarkan kepada peserta didik pada saat ini hendaknya bermanfaat baginya untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Karena itu kurikulum harus bersifat anticipatory and vissioner. Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw.”ajaralah anak-anakmu berenang dan memanah, sebab mereka akan menghadapi suatu zaman yang berbeda dari zaman orang tuanya”. Misalnya, cara yang dipergunakan untuk berhitung angka, kalau dulu masih dipergunakan lidi atau jari, setelah adanya kalkulator atau komputer maka pembelajaran pun mengalami perubahan.
• Relevansi Pendidikan dengan Tuntutan Dunia Kerja
Disamping relevansi dari segi isi pendidikan, hal yang lain yang juga perlu dipertimbangkan relevansinya adalah berkenaan dengan relevansi dari segi kegiatan belajar. Kurangnya relevansi segi kegiatan belajar ini sering mengakibatkan sukarnya lulusan (output) sekolah dalam menghadapi tuntutan dari dunia kerja. Karena fungsi sekolah adalah menyiapkan peserta didik untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau harus terjun ke masyarakat dengan bekal keterampilan kerja untuk dapat hidup mandiri.
• Relevansi Pendidikan dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berkembang dengan laju yang berlari sangat cepat, Oleh karena itu, pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dan bahkan dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.
2. Prinsip Efektivitas dan Efisiensi
a. Prinsip Efektivitas
Prinsip efektivitas yang dimaksudkan adalah sejauh mana perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan yang telah ditentukan (Muhammad Idi, 1999). Misalnya apabila telah direncanakan sebanyak 10 (sepuluh) program kegiatan yang akan diselesaikan dalam jangka waktu satu bulan, sedangkan dalam pelaksanaannya, jangka waktu yang dipergunakan untuk menyelesaikan hal tersebut telah habis, sementara program kegiatan baru menyelesaikan sebanyak 5 (lima) program, maka keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program kegiatan tersebut tidak efektif, bila ditinjau dari prinsip efektivitas. Dalam proses pendidikan, prinsip efektivitas dapat dilihat dari dua sisi, yakni:
1) Efektivitas mengajar guru, berkaitan dengan sejauh mana kegiatan belajar-mengajar yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik.
2) Efektivitas belajar peserta didik, berkaitan dengan sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang diinginkan dapat dicapai melalui kegiatan belajar-mengajar yang telah dilaksanakan.
Efektivitas belajar-mengajar dalam dunia pendidikan, mempunyai keterkaitan erat antara pendidik dan peserta didik. Kekurangan salah satunya akan membuat terhambatnya pencapaian tujuan pendidikan, dengan kata lain efektivitas proses belajar-mengajar tidak tercapai. Faktor pendidik dan peserta didik serta perangkat-perangkat lainnya, yang bersifat operasional, sangat penting dalam hal efektivitas proses pendidikan atau pengembangan kurikulum (Daradjat, 1996). Karena itu pelaksana kurikulum di lapangan dalam merencanakan kegiatan program belajar-mengajar harus secara cermat memperhitungkan segala kemungkinan yang bakal terjadi, sehingga strategi yang diterapkan benar-benar efektif dalam pencapai tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

b. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi seringkali dikonotasikan dengan prinsip ekonomi, yang berbunyi: dengan modal atau biaya, tenaga dan waktu yang sekecil-kecilnya akan dicapai hasil yang memuaskan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan kurikulum atau proses belajar-mengajar, maka proses belajar-mengajar dikatakan efisien jika usaha, biaya dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan program pengajaran dapat merealisasikan hasil seoptimal mungkin, tentunya dengan pertimbangan yang rasional dan wajar. Dengan kata lain, prinsip ekonomi harus diterapkan dalam pelaksanaan kurikulum.

3. Prinsip Kesinambungan (Continuity)
Prinsip kesinambungan dalam pengembangan kurikulum menunjukkan saling keterkaitan antara jenjang pendidikan, jenis program pendidikan dan mata pelajaran.
a. Kesinambungan Antara Berbagai Jenjang Sekolah
Bahan pelajaran (subject matters) yang diperlukan untuk belajar lebih lanjut pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi hendaklah sudah diajarkan pada jenjang pendidikan sebelumnya atau dibawahnya. Bahan pelajaran yang telah diajarkan pada jenjang pendidikan yang lebih rendah tidak harus diajarkan lagi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sehingga terhindar dari tumpang tindih dalam peraturan bahan dalam proses belajar-mengajar. Contoh pada kurikulum PAI, di SD telah belajar shalat wajib, di SMP diberikan lagi tentang shalat sunnah, shalat berjemaah, shalat dua hari raya dan lain-lain.
b. Kesinambungan Antara Berbagai Mata Pelajaran.
Kesinambungan antara berbagai mata pelajaran menunjukkan bahwa dalam pengembangan kurikulum harus memperhatikan hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, untuk mengubah antara angka temperatur dari skala Celsius ke skala Fahrenheit dalam mata pelajar IPA diperlukan keterampilan dalam perkalian bilangan pecahan. Karenanya, pelajaran mengenai bilangan pecahan tersebut hendaknya sudah diberikan sebelum peserta didik mempelajari cara mengubah temperatur tersebut. Dalam kurikulum PAI prinsip kesinambungan ini seperti mata pelajaran Fiqih bahasan tentang shalat, maka pada mata pelajaran Aqidah sudah disampaikan tentang bahasan rukun iman, begitu juga pada mata al Qur’an tentang hafalan surah Al fatihah dan surah-surah pendek sudah diajarkan.

4. Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Prinsip yang berorientasi pada tujuan berarti sebelum bahan ditentukan maka langkah yang pertama dilakukan oleh seorang pendidik adalah menentukan tujuan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar semua jam dan aktivitas pembelajaran betul-betul terarah kepada tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tersebut (Subandijah, 1993). Dengan adanya kejelasan tujuan, pendidik diharapkan dapat menentukan secara tepat mengenai metode mengajar, media pengajaran, dan evaluasi.

5. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education)
Proses pendidikan tidak saja dilakukan di sekolah, dan tidak juga merupakan monopoli sekolah. Namun proses pendidikan dapat dilakukan di luar sekolah, misalnya dalam keluarga (informal), dan masyarakat (nonformal). Jadi sekolah merupakan salah satu alternatif dalam penyediaan waktu dan aktivitas dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang berkembang lebih baik. Waktu belajar disediakan dan tersedia sepanjang hidup manusia. Oleh karena itu, kita harus dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Prinsip pendidikan seumur hidup mengandung implikasi lain, yaitu agar sekolah tidak saja memberi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada saat peserta didik tamat dari sekolah namun juga memberikan bekal kemampuan untuk dapat menumbuh kembangkan dirinya sendiri setelah mereka keluar dari sekolah yang bersangkutan walaupun mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Komentar