KULTUR SEKOLAH

Nama : Farisa Febriani
Nim : 12001326
Kelas : PAI 4F
Matkul : Magang 1
Dosen pengampu : Farninda Aditya, M.Pd.

                   LAPORAN BACAAN

                  Materi : Kultur Sekolah


A. Kultur Sekolah
  a.  Pengertian Kultur
Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa Inggris yakni culture. Culture atau diterjemahkan budaya adalah serangkaian aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama dan dapat diterima oleh masyarakat. Namun secara terminologis pengertian Kultur atau budaya menurut Montago dan Dawson (1993) merupakan way of life, yaitu cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa. Kultur ini terlahir dari suatu masyarakat, direalisasikan oleh masyarakat dan diakui sebagai aturan yang mengikat bagi masyarakat itu sendiri. Kultur juga dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bersama bagi kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun non fisik. Wujud fisik ditampakkan dalam bentuk artifak, sedangkan yang non fisik dimanifestasikan dalam bentuk kegiatan sosial dan seni. Secara alamiah suatu kultur akan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Kultur atau budaya adalah sesuatu kebiasaan atau pola perilaku normatif yang merupakan hasil oleh pikir, oleh rasa, dan cara bertindak. Salah satu ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah antropolog dari Amerika Serikat yakni Clifford Geertz. Antropolog ini mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit.
  b. Pengertian Kultur Sekolah
Sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Pengertian kultur sekolah sangat beragam, salah satunya yang dinyatakan Stolp dan Smith bahwa kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi atau penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut.(dalam Moerdiyanto, 1996: 78-86).
Jadi yang dapat saya pahami kultur sekolah merupakan kreasi bersama seluruh masyarakat sekolah yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, dan bernurani sesuai visi misi yang diharapkan sekolah.
Ada beberapa para ahli yang mendefinisikan budaya atau kultur sekolah sebagai sebuah orientasi bersama (norma-norma, nilai-nilai asumsi-asums dasar) yang dipegang oleh warga sekolah yang akan menjaga kebersamaan unit dan memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lain. Jadi, kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga masyarakat sekolah.
Jadi kesimpulannya kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah juga dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
B. Macam-Macam Kultur Sekolah
 Kultur sekolah sangat mempengaruhi perubahan sikap maupun perilaku warga sekolah. Kultur sekolah sendiri dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut:
 1. Kultur sekolah positif meliputi kegiatan-kegiatan yang mendukung (pro) pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a. Ada ambisi untuk meraih prestasi, pemberian penghargaan pada yang berprestasi.
b. Hidup semangat menegak sportivitas, jujur, mengakui keunggulan pihak lain.
c. Saling menghargai.
2. Kultur sekolah negatif meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung (kontra) pada peningkatan kualitas pendidikan terdiri dari:
a. Banyak jam kosong dan absen dari tugas.
b. Terlalu permisif terhadap pelanggaran nilai-nilai moral.
c. Adanya friksi yang mengarah padan perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan.
d. Menekan pada nilai pelajaran bukan kemampuan.
3. Kultur sekolah netral meliputi kegiatan-kegiatan yang kurang berpengaruh positif maupun negatif pada peningkatan kualitas pendidikan, terdiri dari:
a. Seragam guru.
b. Kegiatan arisan sekolah, jumlah fasilitas sekolah dan lain sebagainya.
Terciptanya kultur sekolah tidak lain adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah meliputi kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua siswa hanya manakala kualifikasi budaya sekolah tersebut sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Artinya bahwa budaya sekolah menjadi komitmen luas bagi warga dan menjadi kepribadian sekolah, serta didukung oleh stakeholder sekolah. Dengan budaya sekolah yang sehat, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat untuk maju, dorongan bekerja keras dan kultur belajar mengajar yang bermutu dapat diciptakan. Secara karakteristik kultur sekolah terdiri dari kultur positif dan kultur negatif. Kultur positif nya adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warga nya. Mutu kehidupan warga yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif dan profesional. Kultur positif ini akan memberi peluang sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, memiliki semangat tinggi, dan mampu terus berkembang. Sedangkan Kultur negatif adalah budaya organisasi yang bersifat anarkis, negatif, beracun, bias, dan dominatif. Sekolah yang merasa puas dengan apa yang telah dicapai merupakan bagian dari kultur negatif, karena mereka cenderung tidak ingin melakukan perubahan dan takut mengambil risiko terhadap perubahan. Akibatnya kualitas akan menurun.
C. Peran dan Fungsi Kultur Sekolah
Kultur memiliki peran yang sangat strategis dalam organisasi karena menentukan keberhasilan organisasi tersebut mulai dari kepala sekolah, guru staff karyawan hingga para siswa. Kultur sekolah diyakini memiliki peran dalam menghasilkan kinerja yang terbaik pada masing-masing individu, kelompok kerja atau unit kerja sekolah. Oleh karena itu, sekolah sebagai satu institusi, perlu membangun hubungan sinergitas antar warga sekolah yang positif agar memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan. Beberapa kajian menunjukkan salah satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan budaya sekolah terlebih dahulu jika mutu pendidikan ingin diperbaiki.



Komentar